Langsung ke konten utama

Dahulu, Telur Penyu Kadang Berakhir di Meja Makan (2 selesai)

Selamatkan Telur Penyu

Kepulauan Selayar dengan kampung penyunya, bakal menjadi benteng habitat penyu. Selain itu, kepulauan Selayar juga melestarikan sastra lisan "Batti-batti". 

ILHAM WASI
Selayar

 Pelestari penyu tetap beraktivitas seperti biasanya. Berkebun kelapa, atau melaut. Jika, musim telur penyu tiba. Mereka menyelingi aktivitas dengan mencari telur penyu. Memindahkannya ke tempat penakaran. Ketika bergerak di malam hari. Para pelestari biasanya duduk di tepi pantai menunggu naiknya induk penyu ke darat.
 Ketika pukul 20.00 wita hingga dini hari mereka akan mengawasi gerak penyu. Menyalakan senter dan menyorotkannya ke arah laut tidak dibolehkan.  Cahaya bisa menggangu proses bertelurnya. Penyu bisa kembali ke laut sebab kondisinya terancam. "Menunggu saja hingga dini hari. Ketika penyu telah bertelur baru dipindahkan sebelum pagi. Jika terkena matahari telur-telur bakal rusak," ungkap Datu.     
 Mereka paham betul masa-masa bertelurnya biota laut itu. Penyu juga mesti diberi rasa aman. Paling kurang 700 butir telur yang ditakar. Pemindahan telur tersebut juga menghindari dari abrasi pantai. Adanya, penakaran telur penyu memberi tujuan positif. Kerap tujuan ekoswisata. Para wisatawan bisa melihat proses penakarannya.
 Di lokasi tersebut, diberlakukan sistem donasi.Wisatawan yang datang berdonasi khusus. Peruntukannya untuk biaya penakaran. "Ada yang berdonasi meminta melepas penyu. Donasinya pun tak ditentukan. Jika berdonasi telah ikut melestarikan," ujar Datu.
 Penyu paling besar bisa mencapai berat ratusan kilogram. Selain itu, usia penyu bisa mencapai ratusan tahun. Saat melepas tukik. Usia untuk bertelur pun pada usia 30 tahun. "Penyu memiliki instin yang tinggi, ketika dilepas mesti diarahkan ke darat, agar tahu di mana dia berasal," ungkap Datu. 
 Konon, mitos yang berkembang di kampung tersebut. Telur penyu memiliki kasiat yang tinggi. Menurut, Datu, telur penyu bisa meningkatkan stamina bagi laki-laki. "Itu mitosnya, akan tetapi tak lagi sekarang," ujarnya.
 Saat pelestarian penyu di buat. Kampung penyu kini dijadikan sebagai ekowisata. Penyelamatan telur penyu untuk melestarikan penyu-penyu langka. Penyu yang hidup didaerah tersebut diantaranya  jenis penyu Lekang Abu-abu, Hijau, dan Sisik.
 Selain itu, menyambut musim angin barat  yang diprediksi terjadi Desember hingga Februari. Mereka membuat kolam dengan ukuran 15 x 30 meter untuk penyu besar. Kadang ada penyu yang terdampar saat musim tersebut. Makanya, dibuatkan kolam untuk mengantisipasi penyu yang terdampar. Datu berharap, adanya penyelamatan telur penyu bisa menjadikan daerah tersebut daerah penelitian untuk tujuan pendidikan. "Kampung penyu ini diharapkan mampu pusat penelitian soal penyu," pungkasnya. 
 Lawatan, kampung penyu merupakan dari penyelenggaraan Sail Indonesia 2014 dan Takabonerate Island (TIE) Expedition VI Kepulauan Selayar. Di kepulauan itu pula, pertunjukan tradisi juga memikat. Kuatnya tradisi sastra lisan saat ini masih terjaga. Tradisi sastra lisannya yaitu "Batti-batti". 
 Dua alat petik, Gambus dimainkan  oleh Patta Nasra, 31 tahun dan Dahalin 50 tahun. Keduanya fokus bermain, memetiknya suara khas. Iramanya mengalir dipadukan dengan rabana. Giliran Pabbatti (penyanyi dengan bahasa daerah), Supriadi 50 tahun dan Ati 35 tahun saling berbalas kata-kata. Kisah yang diangkatnya soal percintaan sepasang kekasih.  Seorang perempuan dikecewakan. Memustuskan kekasihnya karena perselingkuhan. Saat sang lelaki sadar, kembali ia memburu pujaan hatinya. Kadang kisahnya berakhir dengan romantis atau sebaliknya. "Cerita yang di angkat baru dijalankan saat di atas panggung. Tak mesti ada latihan khusus," beber Ati, perempuan yang meneruskan jejak keluarganya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah di Balik Nama Pasangkayu, dari Tutur Suku Kaili: Vova Sanggayu

Pemkab Mamuju Utara sedang mengupayakan perubahan nama menjadi Kabupaten Pasangkayu. Lalu, dari mana asal nama itu? ILHAM WASI Pasangkayu diyakini sebagai tempat pohon Vova Sanggayu/ist IBU kota Mamuju Utara (Matra) adalah Pasangkayu. Itulah yang diusulkan menjadi nama kabupaten. Agar ada yang khas, tidak lagi dianggap mirip dengan Mamuju, ibu kota provinsi Sulawesi Barat. Nama Pasangkayu punya kisah. Konon diambil dari nama sebuah pohon besar. Cerita yang sudah melegenda. Penulis buku Tapak-tapak Perjuangan Berdirinya Mamuju Utara , Bustan Basir Maras menjelaskan, selama dirinya melakukan risetnya, memang muncul beberapa versi. Namun, dia menemukan bila setidaknya 70 persen tokoh masyarakat di Matra mengakui Pasangkayu berasal dari kata “Vova” dan “Sanggayu”. Masyarakat meyakini pohonnya tumbuh   di Tanjung Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu, Matra. “Masih tampak kok bakau-bakaunya di sana. Tetapi vova sanggayu sudah tidak ada,” paparnya, Kamis, 23 Maret. V...

Musik Tradisi "Passayang-sayang" dari Mandar

MUSIK TRADISI. Pemain Pasayang- sayang  diacara peresmian Pusat Kajian Kebudayaan di Universitas Sulawesi Barat, Rabu 29 April. Musik tradisi ini telah tercatat sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia . Tahan Tuturkan Kisah "Siamasei" Berjam-jam   Musik tradisional passayang-sayang dimainkan sebagai hiburan rakyat. Berisi ungkapan hati dan pemain passayang-sayang ini pun miliki cara agar penonton tahan berjam-jam lamanya. ILHAM WASI Majene Ketika gitar dipetik, melodi mengalir merdu. Petikan melodi Dahlan pun membui penonton. Irama melodi dipadukan dengan gitar bas yang dimainkan Abd Hamid. Giliran Zakaria dan Sinar melantunkan lirik lagu passayang-payang bergantian. Keduanya, masyarakat Mandar menyebutnya sebagai pakelong (penyanyi).  Mereka semua masih dalam satu grup musik tradisional dari Tiga Ria Tinambun yang berasal di Kecamatan Tinambung Polman. Tugas mereka sebagai orang-orang pelestari seni musik tradisional passayang- sayang...

Jejak Imam Lapeo, KH Muhammad Thahir (selesai)

Menara Masjid Lapeo Menara Sempat Miring, Tegak Setelah Gempa  Mendengar kisah-kisah dari Imam  Lapeo , KH Muhammad Thahir membuat kita betah dan ingin tahu lebih dalam. Masjid berada di Desa Lapeo  menjadi saksinya ILHAM WASI Campalagian megah Masjid  Lapeo  dibangun mulanya bernama Langgar  Lapeo  tahun 1902-1906, diganti nama masjid Jami' Attaubah hingga 1962, dan terakhir Masjid Nurut Taubah, nama melekat hingga saat ini. Luas masjid berlantai tiga ini panjangnya sekira 25 meter dan lebar 40 meter. Berdiri satu menara warna keemasan. Tak disangka menara tingginya 30 meter itu menyimpan cerita.  Saya kembali masuk ke dalam masjid menemui pengurus masjid, Sumardin Kamal. Dia juga khatib di masjid ini. Lelaki berusia 72 bilang kepada saya. Dulu ada dua menara berdiri, akan tetapi sejak tetapi gempa melanda Mandar menara berukuran 15 meter roboh pada tahun 1969-an. "Begitupun dengan masjid ini ikut hancur, ...