Langsung ke konten utama

Postingan

*)In Memoriam Saerly Saelan Istri Alm Jenderal (purn) TNI M Jusuf

Kesetiaan Nan Abadi, Teladan Bagi Perempuan Pemimpin yang besar tak bisa lepas dari seorang istri yang mendampingi. Perempuan penerang, penyejuk yang setia mendampingi. Saerly Saelan, seorang istri tokoh nasional, Jendral M Jusuf berpulang kepangkuan Maha Kuasa.    ILHAM WASI Makassar Langkah derap sepatu enam anggota TNI, mengangkat Jenazah Saerly Saelan. Dua Prajurit masing-masing membawa foto Almarhuma Saerly Saelan, dan karangan bunga. Langkah penghormatan mengantarnya, menuju peristirahatan terakhir. Ia telah meninggalkan jasa-jasa yang patut dikenang. Keluarga, kerabat, masyarakat, serta tokoh-tokoh nasional turut memberi doa bagi mendiang. Saerly Saelan amat dicintai. Istri mendiang Jenderal (purn) TNI M Jusuf menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Akademis, pada pukul 16.20 wita, Sabtu 11 Oktober. Selain mewariskan prinsip kejujuran, kedisiplinan, dan keserdahaan serta kesetiaanya yang patut diteladani. Ketokohan Jenderal (purn) TNI M Jusuf, tak...

Musik Tradisi "Passayang-sayang" dari Mandar

MUSIK TRADISI. Pemain Pasayang- sayang  diacara peresmian Pusat Kajian Kebudayaan di Universitas Sulawesi Barat, Rabu 29 April. Musik tradisi ini telah tercatat sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia . Tahan Tuturkan Kisah "Siamasei" Berjam-jam   Musik tradisional passayang-sayang dimainkan sebagai hiburan rakyat. Berisi ungkapan hati dan pemain passayang-sayang ini pun miliki cara agar penonton tahan berjam-jam lamanya. ILHAM WASI Majene Ketika gitar dipetik, melodi mengalir merdu. Petikan melodi Dahlan pun membui penonton. Irama melodi dipadukan dengan gitar bas yang dimainkan Abd Hamid. Giliran Zakaria dan Sinar melantunkan lirik lagu passayang-payang bergantian. Keduanya, masyarakat Mandar menyebutnya sebagai pakelong (penyanyi).  Mereka semua masih dalam satu grup musik tradisional dari Tiga Ria Tinambun yang berasal di Kecamatan Tinambung Polman. Tugas mereka sebagai orang-orang pelestari seni musik tradisional passayang- sayang...

Jejak Imam Lapeo, KH Muhammad Thahir (selesai)

Menara Masjid Lapeo Menara Sempat Miring, Tegak Setelah Gempa  Mendengar kisah-kisah dari Imam  Lapeo , KH Muhammad Thahir membuat kita betah dan ingin tahu lebih dalam. Masjid berada di Desa Lapeo  menjadi saksinya ILHAM WASI Campalagian megah Masjid  Lapeo  dibangun mulanya bernama Langgar  Lapeo  tahun 1902-1906, diganti nama masjid Jami' Attaubah hingga 1962, dan terakhir Masjid Nurut Taubah, nama melekat hingga saat ini. Luas masjid berlantai tiga ini panjangnya sekira 25 meter dan lebar 40 meter. Berdiri satu menara warna keemasan. Tak disangka menara tingginya 30 meter itu menyimpan cerita.  Saya kembali masuk ke dalam masjid menemui pengurus masjid, Sumardin Kamal. Dia juga khatib di masjid ini. Lelaki berusia 72 bilang kepada saya. Dulu ada dua menara berdiri, akan tetapi sejak tetapi gempa melanda Mandar menara berukuran 15 meter roboh pada tahun 1969-an. "Begitupun dengan masjid ini ikut hancur, ...

Jejak Imam Lapeo, KH Muhammad Thahir (2)

masjid Lapeo Teguh Syiar Islam, Bijak Menantang Penjajah Dia adalah seorang ulama yang mensyiarkan Islam. Ketokohannya pun telah dikenal masyarakat luas. Dia oleh masyarakat dikisahkan secara turun-temurun.  ILHAM WASI Campalagian Dekat masjid Nurut Taubah  Lapeo , rumah imam masjid ditemui. Rumahnya berada di lantai atas dari di lantai dasar tempat wudhu masjid. Dia imam masjid  Lapeo  saat ini, Drs KH Syarifuddin Muhsin. Dia meneruskan jejak dari sang kakek, KH Muhammad Thahir. Saya menyapanya dikediamannya. Kami bersalaman. "Ada yang bisa saya bantu," ujarnya. Saya mengenalkan diri dari Harian FAJAR. Dia menyambut dengan hangat lalu tersenyum. "Saya mengenal bapak Alwi Hamu, kami pernah satu sekolah dulu waktu di Parepare," tuturnya. Kemudian dia menitipkan salam pada Chairman PT Media Fajar Group, Alwi Hamu. KH Syarifuddin berusia kini 72 tahun. Dia diangkat menjadi imam masjid setahun sebelum pensiun dari pengawai Dinas Te...

Jejak Imam Lapeo, KH Muhammad Thahir (1)

Makam Imam Lapeo, di Mandar    Imam Lapeo, KH Muhammad Thahir Tak Pernah Putus dari Peziarah Di masjid Imam Lapeo atau dikenal masjid Nurut Taubah Lapeo. Letak masjidnya berada di Desa Lapeo Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar. Tak sulit mendapati masjid itu sebab berada di pinggir jalan Poros Polman-Majene, Sulbar. ILHAM WASI Campalagian Usai salat Dhuhur di masjid Imam Lapeo, Rabu 17 Juni. Saya tak langsung pulang, sebab ingin tahu banyak soal masjid tertua di tanah Mandar ini. Di Lapeo ini juga telah ditetapkan kawasan wisata religi. Empat orang sedang melingkar. Saya menyapanya, mereka para pengurus masjid imam Lapeo. Saat ditanyai soal kisah Imam Lapeo, seorang menunjuk papan informasi letaknya di sebelah kanan saf paling depan.  "Kisah Imam Lapeo ada di sana." kata salah satu pengurus Sumardin Kama menunjukkannya pada saya. Di situlah berisi riwayat singkat perjalanan hidup KH Muhammad Thahir Imam Lapeo (1839- 1952). "Sengaja pen...

Jejak Syekh Abdul Mannan di Salabose, Majene

Alquran Tua Masjid Syech Abdul Mannan (Masjid Tua) Muhammad Gaus, Pemuka Agama Salabose Wariskan Alquran Berusia 400 Tahun Bila di Polman tokoh syiar Islam oleh KH Muhammad Tahir Imam Lapoe, dan di Majene syiar Islam oleh Syekh Abdul Mannan. Syekh Abdul Mannan mewariskan  Alquran  berusia ratusan tahun.  Alquran  dijaga oleh pemuka agama di Salabose.  ILHAM WASI Majene Menuju Salabose. Di Salabose dikenal dengan tradisi maulid Nabi Muhammad saw. Jika perayaan maulid tiba berbondong-bondonglah masyarakat merayakannya, sebagai budaya religius. Perayaan ini juga kerap mengundang wisatawan berkunjung.  Salabose juga menyimpan warisan  Alquran .  Alquran  berusia ratusan tahun. Warisan yang menandai jejak tokoh syiar Islam atau masa masuknya Islam di tanah Mandar pada abad ke-16. Tokohnya, Syekh Abdul Mannan. Salabose secara administratif berada di Kelurahan Pangali-ali, ...

Save Sastra dan Sastrawan!

Save Sastra dan Sastrawan! Polemik yang terjadi berujung dipolisikannnya Saut Situmorang, mengundang simpati dikalangan penyair, sastrawan, budayawan, jurnalis, serta penikmat sastra. Aku pun demikian, memilih untuk tidak diam. Save Sastra dan Sastrawan! SASTRA ILO (ilosastra@yahoo.co.id) Kamis, 26 Maret 2015. Kabar dari datang seorang kawan, mengabari perihal, si lelaki berambut gimbal dijemput paksa, oleh tiga anggota petugas kepolisian Resor Jakarta Timur. Baik media massa dan media sosial pun ramai membicarakannya. Kabarnya, Sigimbal dijemput paksa dikediamannya di Danunegaran, Mantrijeron, Yogyakarta. Dia harus dijemput sebagai saksi dalam tuduhan pencemaran nama baik Fatin Hamama (penyair asal Jakarta). Aku yakin, Sigimbal berbadan tambung ini, tak pernah bergetar sedikit pun ketika hendak ditangkap. Dia Sigimbal adalah Saut Situmorang. Aku kenal sebagai penyair dan sastrawan asal Yogyakarta, tajam dalam kritiknya dan lantang bersuara jika bicara soal sastra. Saut...